Lombok Trip Day 3 : Tanjung Aan, Mataram

Inilah hari ke-3, sekaligus hari terakhir perjalanan kami di Lombok. Destinasi wisata pertama adalah pantai Tanjung Aan yang terletak tidak terlalu jauh dari Pantai Kuta Lombok. Mengendarai mobil, pantai ini dapat ditempuh dalam 10-15 menit saja.

Seorang teman yang pernah ke Lombok bilang kalau Tanjung Aan adalah pantai terbaik di Lombok yang dia kunjungi. Setelah melihat langsung, saya hanya bisa setuju.

Salah satu keunikan Tanjung Aan, di satu sisi membentang pasir putih, sedangkan di sisi sebelahnya membentang pasir merica. Pasir merica tidak menempel di kulit, dan sangat empuk ketika diinjak. Air jernih, dan di sela-sela karang kita bisa mengamati ikan-ikan kecil dan kepiting.

lombok-pantai-tanjung-aan-kuta

Karena waktu terbatas, jadwal kami hanya sampai jam 12-an di sini, saya hanya sempat main ombak di pantai merica. Ombak cukup keras, tapi airnya dangkal sehingga asyik untuk bermain

Tiket masuk Tanjung Aan + parkir mobil 10.000. Untuk membilas seusai bermain air, ada kamar mandi seadanya dengan tarif 5.000 / orang. Di pinggir pantai banyak penjual kelapa. Harga kelapa masih wajar, 7.000 – 10.000 / butir. Kalau daging kelapa bersisa, bisa diberikan ke anjing yang berkeliaran di sekitar parkiran mobil. They love coconut, believe it or not!

Perjalanan kami berikutnya adalah ke Kota Mataram. Kami berkunjung ke Desa Sasak Sade, desa tradisional Suku Sasak. Bangunan masih tradisional dengan semen kaki 4, alias dari (maaf) kotoran kerbau. Tradisi yang unik di desa ini adalah kawin lari. Calon mempelai pria melarikan calon mempelai wanita (atas kesepakatan bersama). Kemudian si pria menegosiasikan mahar dengan orang tua pihak wanita.

Mencari makan siang di kala bulan puasa ternyata memberikan tantangan tersendiri. Sebagian besar tempat kuliner tutup, sehingga kami makan seadanya, makan nasi kucing di daerah Mataram. Sebungkus nasi kucing hanya 5.000, makan 2 bungkus sudah cukup mengenyangkan.

Berwisata rasanya belum afdol kalau tidak membeli oleh-oleh. Kami membeli beberapa oleh-oleh khas Lombok: madu, dendeng rusa, dan dodol rumput laut. Dendeng rusa harus digoreng dengan minyak supaya empuk. Kalau di-microwave saja hasilnya jadi keras. Di Lombok ini ada madu putih dan madu hitam. Madu putih dihasilkan dari lebah yang membuat sarang di karang, dan berwarna putih susu. Madu hitam adalah madu yang sudah disimpan dalam waktu lama, sehingga rasanya lebih enak. Harga madu hitam hampir 3x harga madu biasa.

Anda tentu tahu salah satu panganan khas Lombok: ayam taliwang. Atas rekomendasi teman dan supir, kami mencoba Ayam Taliwang Irama. Rasa ayam taliwang, bumbu, dan pelecing menurut saya tidak berbeda jauh dengan ayam taliwang di Bandung yang terletak di dekat Jl. Diponegoro. Yang unik di resto ini menu sup iga sapi (saya lupa namanya XD). Kuah sup nya gurih, dagingnya juga empuk.

Di perjalanan pulang ke hotel, kami membeli semangka di dekat bandara. Harga per butir 15.000. Kalau kita naik motor / sepeda, katanya sih bisa dapat 5.000 s/d 10.000 per butir.

Sekian perjalanan kami di Lombok. Sangat sangat suka sama pulau ini. Satu hari saya pasti kembali dengan waktu yang lebih panjang dan jadwal yang lebih santai.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.