Sepulang kantor gue mau ke Santosa menengok anaknya Kang Ben yang sedang sakit. Supaya anaknya cepet sembuh, gue beliin buah-buahan di Giant IP, supermarket paling deket dari kantor. Tanpa disadari, uang yang dibayar lebih Rp. 2.000 karena terlipat. Mbak Kasir dengan sigapnya melihat, ‘Mas uang nya kelebihan Rp. 2.000’. Rp. 2.000 bukan jumlah yang besar, cuma bisa parkir motor dua kali, tapi gue takjub sama sikap jujur si Mbak Kasir. Sikap yang kita pelajari sedari SD, hanya kini kadang jarang terlihat batang hidungnya. Tapi entah yaa kalau yang terlipat Rp. 100.000, gue harap Mbak Kasir nya tetep jujur juga.
Melewati hujan badai #lebai akhirnya gue sampai di kamar 738 RS Santosa. Ngobrol panjang lebar dengan Kang Ben, ternyata penyakit Samudra – anaknya – sempat salah diagnosa. Samudra pertama kali masuk Santosa hari Jumat, didiagnosa hernia oleh dokter jaga. Besoknya dokter bedah memeriksa ulang kondisi Samudra, dan beliau ragu kalau itu hernia. Alhasil operasi akhirnya dipending sampai Samudra pup, ‘kalau pup perutnya sakit itu hernia’ kata dokter. Hari Minggu perkiraan dokter bedah terbukti benar, kalau hernia bukanlah penyakit sebenarnya.
Gue merinding juga mendengar cerita Kang Ben. Kebayang kan kalau dokter bedah hanya mikirin duit lalu main hajar bleh aja, yang penting nge-bedah dan dibayar. Untungnya dokter bedah yang satu ini bermoral dan jujur. Beberapa kali gue denger kasus temen yang dirawat inap sama dokter rumah sakit padahal hanya diare. Konon sih si dokter dapat komisi. Hal inilah yang terjadi kalau orang hanya memikirkan uang dan lupa amanah yang dipikul dalam profesinya.
Singkat cerita, penyakit Samudra yang sebenarnya bisa diketahui, dan keadaannya kini sudah membaik. Besok atau lusa hopefully bakal keluar dari rumah sakit. Cepat sembuh yaa 😀
Leave a Reply