Malam ini gue menonton Soegija (dibaca Sugia) bersama teman-teman SMA di BSM XXI. Film yang dijadwalkan tayang pk 19.00 berujung ngaret 15 menit gara-gara iklan. Mungkin taktik pengelola bioskop supaya iklan yang ditampilkan disimak oleh penonton yang sebagian besar datang tepat waktu. “Untung iklan nya tidak muncul di tengah-tengah film”, canda salah satu teman gue.
Buat gue, yang menarik dari film Soegija adalah sejarah yang diceritakan terutama pasca proklamasi 1945. Ternyata kondisi masyarakat saat itu tidak teratur karena tidak adanya pemimpin yang sah di sejumlah besar daerah, penjarahan terjadi dimana-mana. Bahkan, sekitar tahun 1947 Londo (Belanda) menguasai beberapa kota dengan sistem negara boneka, sampai mengangkat senjata menghadapi pejuang Indonesia. Film Soegija media yang sangat baik untuk mengajarkan sejarah!
Uskup Soegija memberikan statemen di penghujung cerita, “Kalau mau jadi politikus harus mempunyai mental politik. Kalau tidak punya, nanti hanya ada kekuasaan, jadi benalu untuk negara”. Pastinya ada telinga yang memerah mendengar pernyataan ini.
Setiap film tentunya memiliki kekurangan. Gue beberapa kali merasa bosan ketika menonton Soegija, rasanya film ini tidak ada klimaks. Momen-momen bersejarah berlalu tanpa ada adegan yang berarti, misalnya ketika peralihan kekuasaan ke Jepang, ketika proklamasi kemerdekaan. Kalau momen tersebut lebih diberi penekanan, mungkin film bisa menjadi lebih seru.
Gue memberikan rating 3/5 untuk Soegija. Anda?
Leave a Reply