250.000 untuk Indonesia

Sore yang tenang, saya sedang bermotor dari ciliwung ke arah sawunggaling. Di depan gasibu ada polisi, secara refleks saya memeriksa lampu motor, yang celakanya ternyata lupa saya nyalakan. Polisi yang berjaga memberhentikan motor saya, meminta SIM dan STNK. Saya pede saja, dua duanya saya bawa. Ternyata SIM saya sudah expired bulan Juni 2011. “Sudah jatuh tertimpa tangga”, batin saya.

Saya digiring ke dalam pos polisi yang terletak dekat dengan lokasi razia. Petugas berinisial R bersikap ramah, menjelaskan pelanggaran saya dan tujuan mulia diterapkannya aturan menyalakan lampu motor pada siang hari, yaitu untuk mengurangi resiko kecelakaan bermotor. Penasaran, saya pun bertanya apakah aturan tersebut sudah mengurangi angka kecelakaan bermotor di Bandung. R menyatakan belum.

R menjelaskan saya dikenakan 2 pasal pelanggaran, yaitu tidak menyalakan lampu motor dan tidak membawa SIM. Mengenai pasal pertama (tidak menyalakan lampu motor) saya meminta diberikan peringatan terlebih dahulu. Toh perbuatan tersebut tidak disengaja. Permintaan saya yang ini diterima.

Pasal kedua, tidak membawa SIM, dinyatakan dikenakan kepada saya karena SIM saya sudah expired. Meskipun expired, saya rasa tidak dapat dikategorikan tidak membawa SIM, karena secara teknis SIM tersebut saya bawa. Pak polisi R bersikukuh untuk pasal yang satu ini. Denda yang tertulis Rp. 250.000, lebih mahal daripada denda lampu Rp. 100.000. Saya mencoba meminta diberikan keringanan 1 hari, dimana besok saya akan memperpanjang SIM saya. Permintaan saya tidak diterima.

“Aa Sutikno mau membayar denda di pengadilan atau di sini saja?”, tanya R, “Aa sama-sama bayar denda”. Bayar sih sama, tapi mungkin masuk ke kas yang berbeda. Saya teringat janji saya untuk sidang kalau kena tilang, so saya putuskan untuk membayar denda di pengadilan saja. Setelah tahu keputusan saya, hilanglah keramahan dari pak polisi yang satu ini. Anyway saya tetap beterima kasih di ujung penyelidikan, soalnya sudah menghabiskan waktu beliau kurang lebih 30 menit.

Tanggal 19 Oktober saya sidang. Rp. 250.000 untuk Indonesia.


Posted

in

by

Tags:

Comments

One response to “250.000 untuk Indonesia”

  1. Matthew Avatar
    Matthew

    haha…. dulu pernah ngalamin yang mirip… ada temen ditilang waktu itu, dia masih 3 SMP bawa motor, ga punya SIM, trus dia nerobos lampu merah, alhasil ditilang.

    Dia panik, telp temen nya, temen nya minta saya yg kebetulan kita lagi deket lokasi sana… akhirnya kita menuju lokasi.

    saya: “wah… bagaimana nih Pak”
    Polisi: “iya, ade ini bawa motor, trus nerobos lampu merah, parah nya belom punya SIM, dibawah umur pula (masih 15 taun kalo ga salah)”
    Saya: “waduh, iya emang salah dia nih Pak (marahin anak nya)”
    Saya: ” ya sudah pak, kita damai saja”
    Polisi: ” itu pelanggaran ga punya SIM saja uda seratus ribu sekian (lupa angka nya), kemudian pelanggaran lampu merah nya sekian puluh ribu rupiah”
    Saya: ” waduh Pak… ga ada uang segitu saya Pak, maklum masih mahasiswa”
    Polisi: “ya ga bisa kalau gitu, mau di sidang saja ini kasus nya?”
    Saya: “segini aja ya pak” (buru-buru sodorin duit 15 rebu)
    polisi: “ga bisa!! uda disidang aja”
    Saya: ” waduh pak, ya uda pak, ini aja Pak, ini uda berat banget buat saya (tambah 20 ribu) total 35 rebu.. Saya mahasiswa dari kampus *** Pak, mohon di bantu”
    Polisi: “ya sudah, berikutnya jangan melanggar lagi ya”
    Saya: “baik Pak, terima kasih”

    Rp. 35.000 untuk Pak polisi jl Pasirkaliki 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.