Belum lama ini Blackberry re-launch aplikasi BBM di Apple iOS (iPhone) dan Android. Sebelumnya launch BBM bisa dibilang gagal karena aplikasi ditarik kembali hanya dalam beberapa jam.
Lingkungan saya bisa dibilang kalangan menengah di Kota Bandung. Cukup unik melihat respon dari teman-teman saya terkait re-launch BBM di iOS dan Android. Ada 2 tanggapan umum dari sebagian besar teman saya:
1. Add PIN gw donk
2. BB gw laku dijual berapa ya?
Sebagai orang awam, saya melihat BBM tetap mempunyai tempat tersendiri di hati user. Meskipun sudah sering chat di LINE, Whatsapp, tapi teman-teman di dua aplikasi messaging tersebut tetap meminta berteman di BBM. Untuk handset Blackberry sendiri, posisinya menjadi semakin sulit. User yang mempertahankan Blackberry hanya demi BBM, sekarang dengan senang hati menjual handsetnya. Banyak supply, harga tentunya jatuh.
Bagaimana peluang BBM ke depannya?
1. Saat ini kalau berteman di Whatsapp dan BBM, saya memilih chat di Whatsapp. Berteman belum tentu chatting di BBM, kecuali BBM ada keunggulan lain
2. Di Indonesia masih ada yang hanya punya BBM. Bisa jadi langkah strategis ketika user berganti handset, tetap memilih BBM sebagai sarana chatting karena sudah terbiasa.
3. Orang tua kemungkinan memilih BBM. Image BBM itu mudah. Ibu saya yang tidak tertarik Whatsapp, LINE, dll, tertarik ketika mendengar BBM ada di Android.
Bagaimana menurut Anda?
Leave a Reply