Belakangan gue teringat satu hal yang diajarkan senior gue, Start With Why. Start With Why dicetuskan oleh Simon Sinek, dan bisa dilihat di situsnya. Statement Simon Sinek menampar pemikiran dan mengubah paradigma gue.
More or less, ada 3 pertanyaan kalau kita berbicara menjalankan perusahaan / membuat produk: Why, How, What. Seringkali kita terjebak memulai dari What, lalu How, dan terakhir Why. Gue punya odol loh (what), odol ini beda sama odol yang lain, soalnya bahannya alami (how), supaya anda sehat (why) mari beli odol gue. Pendekatan what first cenderung kurang menarik. Akan lebih baik jika dimulai dari why: kesehatan sangat penting untuk anda, soalnya kalau sudah sakit mahal (why); supaya sehat, anda perlu menggunakan bahan alami (how), nih gue ada odol dari bahan alami (what) anda mau?
Yang gue rasa, gue sangat mudah ngomongin how dan what. Bikin ini, bikin itu, kerjain ini, kerjain itu, tapi apa ‘why’ nya? Why yang kuat akan menemukan how, lalu what. Why adalah esensi dari produk kita, bahkan esensi apa yang kita kerjakan. Why we work at this place? Why we build that stuff? Why? Why? Why?
Leave a Reply